M-NEWS
4 Hal yang Mungkin Kalian Rindukan dari Musik Sebelum Era Digital
byMUGOS TEAM
7th, Agustus 2020
Comment
news


Ketika umat manusia harus mengalami sebuah proses digitalisasi dalam hidup, tanpa terasa banyak sisi kehidupan yang ikut berubah menjadi serba digital, tak terkecuali dengan industri musik. Perubahan ini bahkan sangat terasa oleh para musisi yang mengalami langsung masa transisi dari era konvensional ke era yang serba digital.


Tak hanya musisi, perubahan ini juga ternyata terasa oleh para penikmat musik itu sendiri. Mendengarkan musik di tahun 90-an jelas akan terasa berbeda dengan mendengarkan musik saat ini. Kemudahan yang disajikan oleh teknologi ternyata justru membuat beberapa elemen yang ada di dalam industri musik jadi menghilang. Apa saja sih hal tersebut? Berikut ulasannya :


Musik dan Tabloid Remaja



Foto via superwaw.com

Dalam sebuah wawancara bersama dengan Gofar Hilman, David Bayu mengungkapkan rasa simpatinya kepada para musisi muda yang tidak pernah merasakan bagaimana tampil di sebuah majalah atau tabloid remaja. Menurut David ada kesenangan tersendiri ketika dirinya muncul di media cetak.


Tidak hanya David, para penikmat musik dari era 90-an pastinya juga merasa rindu dengan era di mana majalah atau tabloid masih menjadi media utama dalam mengakses informasi tentang musik. Frentos yang saat ini tak lagi muda pasti tahu betul bagaimana poster musisi atau band menjadi hadiah menarik dari sebuah majalah atau tabloid.


Musik di Televisi



Foto via : wikipedia


Simbol buffering yang saat ini sudah jarang kita temukan di Youtube merupakan sebuah pertanda jika era digital saat ini sudah lebih maju satu level dari sebelumnya. Namun jauh sebelum semua itu terjadi, sebelum kemesraan dengan platform digital terjalin, televisi dan musik dulunya memiliki hubungan yang sangat romantis. Hal ini bisa kita rasakan dari banyaknya program musik di televisi, mulai dari tangga lagu, festival musik yang tayang di televisi hingga video klip yang tayang secara random.


Setelah era digital mengekspansi industri musik, secara perlahan konten-konten musik di televisi mulai menghilang. Tidak ada lagi festival musik yang tayang di layar kaca, tidak ada lagi tangga lagu dan presenternya yang atraktif dan tidak ada lagi video klip yang menyisipkan kode nada sambung pribadi, semuanya beralih ke platform digital dengan rasa yang tak lagi sama.


Penjualan Fisik



Foto via : Rebanas.com


Transformasi musik ke era digital setidaknya memang bisa menjadi solusi untuk menekan angka pembajakan yang terjadi di industri musik. Daripada mengunduh lagu secara ilegal, kebanyakan orang saat ini lebih memilih untuk mengakses musik di platform digital. Namun hal tersebut bukan tanpa konsekuensi, dengan musik yang bisa di akses secara streaming, ternyata berdampak langsung pada angka penjualan fisik yang tertekan ke titik terendah.


Ketika penjualan fisik masih menjadi sumber pemasukan utama para musisi, Frentos pastinya ingat jika membeli kaset ke toko adalah sebuah kesenangan dan hiburan tersendiri. Selain karena kebutuhan akan musik itu sendiri, ada sebuah kebanggaan ketika kita mampu mengoleksi banyak kaset atau CD musik.

Bagi mereka yang pernah mengalami hal ini pastinya mengerti bagaimana kata thanks to dari para musisi yang ada dibalik lipatan cover kaset menjadi tulisan yang terkadang akan tetap dibaca meskipun mereka tahu tidak akan ada nama mereka di tulisan tersebut.


Kemana Perginya Anak Band?



Foto via : larasatinesa.com


Sebagian dari kita mungkin tahu jika tidak sedikit dari anak muda yang dulunya ingin menempuh karier sebagai seorang anak band. Tidak hanya di kota-kota besar saja, mereka yang tinggal di daerah bahkan menyeragamkan mimpi mereka untuk menjadi anak band yang bisa sukses secara finansial, hal ini lah yang kemudian diadaptasi sebuah film remaja bejudul Realita Cinta dan Rock n Roll.


Seragamnya mimpi anak muda di era 90an tersebut bukan tanpa alasan, melejitnya Dewa 19, Padi, Sheila on 7 hingga Peterpan menjadi tolak ukur bagi mereka untuk bisa hidup mapan dari melakukan hal yang mereka suka.


Namun perubahan era ternyata berdampak langsung terhadap profesi tersebut, jangankan untuk mereka yang baru mulai, band yang sudah lama aktif saja tidak sedikit yang berguguran dan mulai beralih profesi, hanya mereka yang ikonik dan mempunyai basis masa besar yang mampu bertahan.


image cover via : wallpaperinfinity.net