M-NEWS
Mengapa Radio Tidak Mati?
byMUGOS TEAM
1st, Agustus 2020
Comment
news


Secara garis besar dan mari kita satukan suara, kita sepakat jika media elektronik saat ini terbagi menjadi tiga macam, ada televisi, radio dan internet. Jauh sebelum manusia menerima kemudahan informasi di era yang serba digital seperti saat ini, sejarah mencatat jika radio telah mulai digunakan oleh manusia sejak tahun 1990-an, nama Guglielmo Maroni adalah orang yang berjasa menemukan teknologi ini.


Di era tersebut radio mungkin menjadi satu-satunya media elektronik yang sangat berpengaruh bagi peradaban umat manusia. Namun semenjak televisi pertama di jual pada tahun 1920-an, eksistensi radio sebagai media elektronik mulai mendapat tantangan.

Puluhan tahun setelahnya, teknologi radio atau radio itu sendiri selalu di isukan akan hilang seiring dengan semakin berkembangnya televisi dan berbagai macam kontennya, namun hingga peradaban manusia memasuki era digital yang serba mengandalkan jaringan internet, radio nyatanya tak kunjung punah dan masih eksis hingga saat ini.

Uniknya radio justru tidak melakukan adaptasi masif terhadap perkembangan zaman, konsep radio bisa dibilang begitu-begitu saja dan tidak banyak yang berubah, satu-satunya perubahan yang terjadi pada radio adalah eksistensi mereka pada handphone pintar, meskipun rasanya sangat jarang ada orang yang mengakses radio dari handphone mereka saat ini.


Ilustrasi via uzone.id

Lebih uniknya lagi, meskipun rasanya hampir tidak ada manusia di zaman sekarang yang sengaja pergi ke toko elektronik untuk membeli sebuah pesawat radio, penikmat media elektronik yang hanya mengandalkan audio tersebut nyatanya tetap ada hingga saat ini dan tidak bisa dibilang sedikit, bahkan pekerjaan sebagai penyiar radio bisa dibilang sebagai sebuah pekerjaan yang cukup keren di kalangan kaum milenial.

Lalu apa yang membuat radio masih bisa bertahan di tengah gempuran konten digital seperti saat ini? Seperti yang kita ketahui, satu-satunya tempat paling nyaman untuk mendengarkan radio adalah ketika berada di dalam mobil, sehingga bisa kita simpulkan jika mobil masih ada dan kemacetan belum bisa di urai, selama itu pula radio tetap akan mengudara.

Lalu bagaimana dengan konten podcast di internet yang mulai di adaptasi oleh berbagai macam platform digital? Gofar Hilman pada interview-nya bersama Froyonion berkata jika elemen of surprise yang disajikan oleh para penyiar radio menjadi alasan mengapa radio masih ada hingga saat ini, Gofar menerangkan jika ketika mendengarkan radio, kita seolah sedang menguping pembicaraan seseorang tanpa harus terlibat dalam pembicaraan tersebut.

Tapi tunggu dulu, bukankah hal tersebut juga yang terjadi pada podcast? Umumnya kita hanya tertarik untuk melihat atau mendengarkan sebuah podcast di youtube jika yang di wawancara atau bintang tamu di podcast tersebut adalah figur yang cukup menarik yang mana biasanya seorang selebriti. Namanya juga selebriti, kita tentunya akan penasaran jika hanya mendengarkan audio-nya saja, terlebih konten kreator di youtube tidak semuanya memiliki kapasitas dan elemen of surprise yang dimiliki oleh seorang penyiar radio.

Lalu bagaimana dengan podcast non-youtube? Selain masih belum friendly bagi banyak orang tentunya, kita masih harus mencari informasi tambahan mengenai latar belakang podcast tersebut, sedangkan dengan radio semuanya serba terjamin dan mudah, terjamin oleh konten yang akan dibawakan oleh sang penyiar dan mudah untuk di akses, tinggalkan nyalakan radio mobil dan mulai mendengarkan, jika tidak suka, tinggal ganti channel dan sampai bertemu esok hari. Bagaimana menurut kalian frentos?

image cover via hipwee